Janji Cinta

Janji Cinta

Janji Cinta

Jam menunjukan pukul enam kurang enam menit

di Stasiun Kereta Api Grand Central. Seorang Letnan Angkatan Darat yang bertubuh jangkung dan berwajah tampan, baru saja datang dari arah rel kereta. Ia mengangkat wajahnya yang tebakar matahari, matanya memicing untuk melihat keadaan di sekitarnya. Jantungnya berdebar keras, karena enam menit lagi, ia akan bertemu dengan wanita yang telah mengisi tempat istimewa dalam hatinya selama beberapa bulan terakhir ini. Seorang wanita yang belum pernah ia temui, hanya melalui surat yang ia terima.

Letnan Steven teringat

suatu malam ia bermimpi pesawatnya terperangkap di tengah sekelompok tentara Nazi. Ia melihat wajah salah seorang pilot musuh yang menyeringai. Dalam salah satu suratnya, ia mengakui pada sahabat penanya ini bahwa ia sering merasa takut, dan hanya beberapa hari sebelum pertempuran itu, ia menerima jawaban surat dari kekasihnya: “Tentu saja kamu takut, semua pria pemberani pun begitu. Lain kali, saat kamu meragukan dirimu, aku ingin kamu mendengar suaraku membacakan puisi ini, Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Tuhan besertaku”. Dan ia ingat, ia mendengar khayalan suaranya, dan suara itu memperbaharui kekuatan dan keterampilannya. Sekarang ia akan mendengar suara aslinya.
Pukul enam kurang empat menit, wajahnya menjadi semakin tegang. Tiba-tiba, seorang gadis mendekatinya, dan Letnan Steven tersentak. Gadis ini memakai sebuah bunga merah pada kelepak jasnya, tapi bunganya adalah bunga buncis merah, bukan mawar merah kecil yang sudah mereka sepakati. Lagipula, gadis itu masih kelihatan terlalu muda, mungkin sekitar 18 tahun umurnya. Sedangkan Linda Rose kekasihnya waktu itu mengatakan ia sudah berumur 30 tahun.

Pikirannya kembali pada saat pertama kali

ia mengenal kekasihnya itu dari sebuah buku di antara ratusan buku perpustakaan Angkatan Darat yang dikirim ke kamp latihan Florida. Of Human Spirit judulnya, dan di seluruh buku itu ada catatan yang ditulis dengan tulisan wanita. la selalu membenci kebiasaan mencoret-coret buku, tapi kata-kata ini berbeda. Ia tak pernah menyangka bahwa seorang wanita dapat memandang ke dalam hati seorang pria dengan begitu lembut, begitu pengertian. Nama pemilik buku itu tertulis pada sampulnya, yaitu Linda Rose.

Ia lalu mencari nama itu di buku telepon New York City dan ia berhasil menemukan alamatnya. Ia menyuratinya, dan wanita itu membalas. Hari berikutmya ia dikirim ke medan perang, tapi mereka melanjutkan surat-menyurat. Selama 13 bulan, wanita itu dengan setia membalas. Dan lebih dari sekedar membalas, saat surat si letnan tidak tiba, wanita itu tetap menulis surat untuknya. Dan sekarang letnan Steven  yakin, bahwa ia mencintai wanita itu dan wanita itu mencintainya.

Tapi wanita itu menolak semua permintaannya untuk mengirimkan foto. Tentu saja hal itu terasa kurang baik, tapi melalui suratnya, wanita itu menjelaskan, “Kalau perasaanmu terhadapku sungguh-sungguh dan berdasarkan ketulusan hati, maka seperti apapun wajahku tidak akan menjadi masalah bagimu. Misalnya aku memang cantik, aku akan selalu dihantui perasaan bahwa kamu mengambil keputusan berdasarkan hal itu, dan cinta semacam itu membuatku jijik. Misalkan aku biasa-biasa saja (dan kamu harus mengakui bahwa ini lebih mungkin), lalu aku akan selalu cemas bahwa kamu terus menyuratiku karena kamu kesepian dan tak punya orang lain. Jangan, jangan minta fotoku. Kalau kamu datang ke New York, kamu bisa menemuiku, lalu kamu dapat mengambil keputusan. Ingat, kita berdua bebas untuk menghentikan atau melanjutkan persahabatan kita, apa pun yang kita pilih.”

Pukul enam kurang satu menit, hati Letnan Steven berdebar keras. Tiba-tiba, seorang wanita muda yang cantik melangkah ke arahnya. Tubuhnya tinggi dan ramping, rambut pirang mengikal dari sepasang telinganya yang indah. Matanya biru bagai cahaya di kejauhan, dagunya tegas namun lembut. Dalam pakaian hijau muda, ia tampak seperti penjelmaan musim semi. Ia melangkah ke arah wanita itu, namun sekali lagi ia salah, ia benar-benar lupa bahwa wanita itu bukanlah kekasihnya karena ia tak memakai bunga mawar merah di dadanya sesuai janji yang mereka sepakati.

Di belakang wanita cantik berbaju hijau itu, ia melihat seorang wanita lain, “apakah itu kekasih yang belum pernah ku temui itu?” pikirnya. Sejenak Letnan Steven tertegun, ia melihat seorang wanita tua berusia 50 tahunan, rambutnya beruban dengan memakai topi tua, dan tubuhnya sangat gemuk. “Benarkah wanita ini Linda Rose kasihku? tapi ia benar memakai mawar merah kecil di dadanya.”

Gadis cantik berbaju hijau tadi bergegas pergi. Letnan Steven merasa seakan hatinya terbelah. Ingin sekali mengikuti perginya wanita cantik berbaju hijau tadi. Namun begitu dalam kerinduannya untuk menemui Linda Rose, kekasih yang belum pernah dilihatnya itu. Wajahnya yang pucat terlihat lembut dan bijak, ia melihat mata yang berkelip hangat dan ramah. Letnan Steven tak ragu lagi, ia menggenggam buku Of Human Spirit berkulit biru usang yang menjadi tanda menemui kekasihnya itu.

Ini mungkin takkan menjadi cinta, tapi akan menjadi suatu pertemuan yang berharga daripada kisah cinta biasa yang semuanya akan ia syukuri. Letnan Steven menegakkan bahunya yang lebar, memberi hormat dan menyodorkan buku itu pada si­ wanita. Meski sebenarnya ada sedikit rasa kecewa, namun ia tetap bicara, “Saya Letnan Steven, dan ibu pasti Rose. Saya senang kita bisa bertemu. Bolehkah saya mengajak ibu makan malam sesuai janji kita?”

Wajah wanita tua itu tersenyum sabar dan berkata “Nak, ibu tak tahu ini masalah apa? tapi wanita cantik berbaju hijau yang baru saja melewatimu tadi memohon padaku agar memakai mawar ini. Ia meminta ibu  untuk menemuimu. Katanya, kalau kamu mengajak ibu makan malam, maka ibu harus memberitahumu bahwa ia kini menunggumu di rumah makan besar di seberang jalan. Ini adalah ujian katanya, dan ibu tidak keberatan menolongnya. Cepatlah Nak, ia menunggumu.”

Baca Juga :

Tags: